Mediain-news : Ayahku tidak pernah mengecap pendidikan dan tidak memiliki sebuah keahlian, Beliau hanya seorang anak muda pengangguran yang tidak miliki penghasilan, serta belum mengenal Yesus Kristus dimasa remajanya saat tinggal di Malaysia, ujar Nigel Lau ketika memberikan kesaksian di Gereja Sidang jemaat Allah (GSJA) Kasih Anugerah jalan Perintis No 3 Jakarta Barat.

Disaat remaja itu, ayahku dengan modal nekad memberanikan diri untuk keluar dari Malaysia, berpetualang ke negara Eropa untuk mencari peluang hidup.

Namun, penghasilan halal yang ditunggu tidak juga kunjung tiba, hingga ayahku berbuat segala sesuatu untuk bertahan hidup di negeri orang sebagai pilihan terakhir.

Akhirnya, ayahku bertemu dengan kelompok Gengster kejam yang mendapatkan duit dengan cara merampok dan membunuh, bahkan menjual barang haram.

Kejahatan itu dilakukan berpuluh tahun hingga berkali-kali keluar masuk penjara di negerinorang, bahkan korban jiwa yang meninggal dunia akibat perbuatan kejinya pun sudah sangat banyak, hingga ratusan jiwa.

Tiba saat yang mengubah hidup ayahku, ketika melakukan sebuah perampokan disebuah Pastoral gereja, beliau pun berhadapan dengan seorang pastor yang fasih berbahasa Mandarin.

Dimoment itupun, mereka berdua jadi berbagi cerita akan faktor yang menyebabkan ayah saya terjerumus kedalam lembah dosa itu.

Sambung Nigel Lau, mengingat sebuah perkataan Sang Ayah yang disampaikan Pastor itu, ” Boleh saja kamu bunuh saya saat ini, tapi ingat ketika kamu mati nantinya, jiwapun akan mendapat penghukuman akhirat dari Yesus Kristus Sang Juru Selamat Saya” ungkapnya ulang.

Mendengar perkataan dari Pastor itu, Nigel Lau lanjut menceritakan, Sang Ayah pun menjadi sedikit terkejut, karena Sang Pastor tidak ketakutan saat senjata tajam telah diarahkan ke hadapannya, malah memberi sebuah pesan yang belum pernah didengarnya.

Singkat cerita ketika beberapa pesan yang menggugah hati sang ayah tadi, sang ayah pun tidak jadi membunuh Sang Pastor, malah ingin banyak mendengar cerita tentang Pribadi Yesus Kristus dari Sang Pastor, ungkapnya mengulang cerita sang ayah.

Alhasil, beberapa waktu kemudian, sang ayah pun kembali ke Negeri Malaysia untuk mengubah pola hidup jahat menjadi pribadi yang ingin lebih dekat lagi dengan Sang Juru Selamat.

Sang Ayah telah berhasil mendirikan beberapa gereja di Malaysia, di negeri yang ketat dengan adanya aliran kepercayaan.

Nigel Lau becerita, setelah gereja itu berdiri, 1972 ibu meninggal dunia karena penyakit TBC, disusul sang ayah yang meninggal seminggu kemudian, tutup Nigel Lau mengakhiri kesaksiannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *